Bagi sebagian besar kalangan, pemilihan nama Bakpia Djava dianggap keluar dari tradisi toko bakpia yang saat itu hampir semuanya menggunakan "angka" sebagai nama toko. Namun inilah yang mesti dilakukan sebagai respon atas perkembangan dunia pariwisata yang mengalami perubahan sedemikian signifikan. Pariwisata tidak lagi menjadi kebutuhan tersier, tapi kebutuhan sekunder. Pariwisata juga menjadi bagian dari metode pendidikan luar ruang.


Pada tahun 2008, Bakpia Djava membangun toko di Jl. Laksda Adisucipto Km8,5 yang lebih luas dan lebih lengkap untuk kenyamanan anda.

Toko Bakpia Djava juga dilengkapi dengan daour tradisional bagi anda yang ingin tahu proses meracik bakpia.

 

Sikap responsive

Sikap responsive atas perkembangan dunia pariwisata inilah yang membuat Bakpia Djava terus berkembang. Pada tahun 2008, Bakpia Djava kembali membangun toko di Jl. Laksda Adi Sucipto Km 8,5 dengan nama yang sama. Hanya berselang dua tahun tepatnya tahun 2010 Bakpia Djava kembali membangun toko lagi. Berdampingan dengan toko sebelumnya, toko baru dengan lahan parkir sangat luas ini juga diberi nama Bakpia Djava.

Pemilihan nama Bakpia Djava sekali lagi terbukti bukan sekedar untuk "tampil beda" dengan toko-toko bakpia lain yang hampir semuanya menggunakan angka. Karena, terbukti dalam perjalanan waktu, Bakpia Djava mempunyai makna filosofis "the part is new", sejarah dan tradisi masa lalu adalah kebaruan.

Dengan tagline " Resep Tradisional Tempo Doeloe ", Bakpia Djava tetap setia dan konsisten menggunakan resep tradisional tanpa bahan kimia untuk setiap produk yang dijual secara modern.

Konsistensi tradisional juga dilakukan dengan menempatkan dapur produksi di toko sehingga konsumen dapat melihat langsung proses pembuatan bakpia. Bukan itu saja, kepada konsumen yang tertarik untuk mencoba membuat sendiri bakpia yang akan dibeli, dengan senang hati kru Produksi Bakpia Djava akan mendampingi.